catatan seminar parenting (2)

“ … Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga …” (HR. Muslim)

saya akan melanjutkan kembali tulisan saya sebelumnya tentang -catatan seminar parenting- kali ini saya akan menuliskan beberapa catatan mengenai materi yang disampaikan oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman, tema yang diangkat beliau adalah “Menjadi Orang tua yang Dirindukan”—tema ini menyentil sanubari saya, hahaha. Ah, sebegitunya. Ya. Di jaman sekarang, peran orang tua menjadi bergeser, kita kehilangan magnet mereka dan rumah tangga sekedar terminal—setelah seharian lelah dan capek melakukan aktivitas di rumah, masuk kamar untuk merebahkan penat yang menumpuk dan tidak ada diskusi yang hidup dengan anggota keluarga. Orang tua yang hebat adalah orang tua yang dirindukan. Bagaimana orang tua hebat seperti itu?ketika kedatangan mereka sangat diharap-harap anak-anak.

Kita pernah mendengar dogma yang berkembang di masyarakat, “ibu madrasah pertama seorang anak”. Ini benar, tidak diragukan lagi. Pertanyaannya, peran ayah bagaimana? Padahal, layaknya madrasah, proses belajar tidak akan berjalan sukses kalau tidak ada kepala sekolahnya. Itulah kenapa ungkapan di atas mestinya berbunyi “Ibu madrasah pertama seorang anak, dan ayah adalah kepala sekolahnya”. Nah, ini lebih adil.

Maka, ciptakanlah diantara orang tua dan anak yaitu ta’liful qulub (hati yang terikat), hati yang terikat mampu membuat akal anak untuk tunduk kepada orang tuanya. Ingatlah, mengikat sebelum membebani.

Apa saja dampak jika orang tua dirindukan?

(1) Anak tidak menyimpan rahasia kepada orang tuanya.

Belajar dari kisah Yusuf.

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Yusuf : 4-5)

Lihatlah dialog yang terjadi antara ayah dan anak dalam ayat di atas. Sungguh adalah dialog yang indah. Dialog yang menggambarkan begitu dekatnya hubungan antara anak dan ayah. Sesuatu yang sekarang begitu jarang kita lihat. Ayah dan anak seringkali merasa asing. Bertegur sapa sebatas perlu. Layaknya orang yang sedang menunggu antrean busway. Isinya pun seputar PR anak, makan dan biaya kuliah.  Fisik mereka serumah namun jiwa mereka terpisah lain dunia.

Mimpi termasuk wilayah privasi, namun Yusuf tidak sungkan cerita ke Ayahnya.

(2) Anak berusaha taat meskipun terpaksa (terpaksa karena cinta)

Belajar dari kisah penyembelihan Ismail

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ashaffat:102

Secara kronologis, kisah kehidupan Nabi Ibrahim yang tidak mengenal putus asa untuk mendapatkan seorang anak digambarkan oleh Allah dengan penuh kesabaran. Allah memenuhi janjiNya kepada orang-orang yang dikasihiNya melalui doa. Tidak ada yang tidak mungkin bagiNya, kendatipun umur nabi Ibrahim ketika itu berusia 86 tahun. Usia yang sangat senja dalam sejarah produktif dan sangat mustahil untuk memperoleh keturunan.Ketika permohonannya dikabulkan dan belum puas kegembiraan bersama anaknya, Allah memerintahkan pula untuk menyembelihnya. Usia Ismail saat itu 13 tahun menurut al-Farra’, sedangkan menurut Ibnu Abbas menginjak usia pubertas, atau menginjak remaja. Bagaimana perasaan Nabi Ibrahim terhadap anak yang dicintainya. Mungkin andaikan kita mendapat perintah seperti itu, akan mati oleh kesedihannya sendiri.

            Namun Nabi Ibrahim seorang Rasul yang tidak mengenal kehidupan kecuali dalam ridhaNya. Ujian berat dan panjang menunjukkan keimanan, kesabarannya dan penyerahan diri secara total kepada Allah. Begitu pula anaknya, Ismail tatkala di panggil oleh ayahnya dengan mesra: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu”, sang anak menjawab dengan penuh hormat: “Hai ayahku laksanakan apa saja yang diperintahkan kepadamu, engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk orang orang yang sabar”.

(3) Anak tetap hormat meskipun dimarahi.

Belajar dari Usamah yang dimarahi Rasulullah.

Rasulullah marah karena beberapa hal. Namun dapat dipastikan, semuanya bermuara pada satu sebab; sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan agama, bukan kepentingan pribadi.

Rasulullah  marah saat mendengar laporan bahwa dalam medan peperangan, Usamah bin Zaid membunuh orang yang sudah mengatakan la Ilaha illallah (tiada Tuhan selain Allah).

Sedang Usamah membunuhnya karena menyangka orang itu melafalkan kalam tauhid hanya untuk menyelamatkan diri. Nabi menyalahkan Usamah dan berkali-kali mengatakan, “Apakah engkau membunuhnya setelah dia mengatakan la Ilaha illallah?” (HR. al-Bukhari). Usamah hanya diam. Usamah teringat masa kecil indahnya dulu bersama Rasulullah. Usamah sering kali dipangku oleh Rasulullah didudukkan pada paha Rasulullah, sambil memeluk Usamah. Rasulullah berdoa, “Ya Allah, saya menyayangi kedua anak ini, maka sayangi pula mereka.”Pada suatu ketika juga, Usamah tersandung di pegangan pintu yang menyebabkan kening Usamah berdarah.Rasulullah meminta Aisyah untuk mengobatinya, tetapi ia tidak mampu melakukannya sehingga Rasulullah menghisap darah di kening Usamah lalu meludahkannya. Rasulullah menghibur Usamah dengan kata-kata yang menenangkannya.

…masih ada beberapa contoh cerita kehidupan Nabi dan sahabat yang terkait dengan bagaimana dampak orang tua yang dirindukan, tapi karena acaranya sudah mau selesai, dicukupkan sampai disini.

semoga bermanfaat. selamat membaca! 🙂
***

catatan seminar parenting (1)

“Parenting is the easiest thing in the world to have an opinion about, but the hardest thing in the world to do.” –Matt Walsh

Ahad (30/04/17) kemaren, saya datang ke seminar parenting yang diadakan oleh komunitas Man Jadda Wajada, seminar tersebut mengangkat tema “Super Parents for High Quality Generation”. Seminar parenting ini menghadirkan dua narasumber yang expert dalam bidangnya: parenting (juga pernikahan sih, eaaa). Narasumber ini terdengar tidak asing lagi bagi kita, adalah Ustadz Cahyadi Takariawan, biasa dipanggil Pak Cah, beliau adalah penulis beberapa judul buku yang diantaranya bertemakan tentang pernikahan, seperti: paket Wonderful (Wonderful Husband, Wonderful Wife, Wonderful Couple dan Wonderful Family). Beliau juga seorang trainer dan konsultan di  Jogja Family Center yang fokus dalam mengatasi permasalahan keluarga lewat pendekatan konseling. dan Rumah Keluarga Indonesia (RKI). Di samping Pak Cah, ada lagi narasumber lainnya, adalah Ustadz Bendri Jaisyurrahman, beliau seorang pakar parenting ala Rasulullah dan konselor pernikahan (jadi kalau ada teman-teman yang mau curhat-curhat atau mau bimbingan pra nikah, silahkan bisa datang ke beliau).

Pemateri pertama dalam seminar parenting ini adalah Pak Cah, sebelum membawakan materi, saya dan peserta lain diajak berdiri sejenak untuk bertepuk tangan dengan semangat. Pak Cah membuka sesi acaranya dengan menampilkan judul di slide: keharmonisan keluarga. Ya, keharmonisan keluarga adalah persepsi terhadap situasi dan kondisi dalam keluarga dimana di dalamnya tercipta kehidupan beragama yang kuat, suasana yang hangat, saling menghargai, saling pengertian, saling terbuka, saling menjaga dan diwarnai kasih sayang dan rasa saling percaya sehingga memungkinkan anak untuk tumbuh dan berkembang secara seimbang. Menurut Harlock (1999) bahwa anak yang hubungan perkawinan orangtuanya bahagia akan mempersepsikan rumah mereka sebagai tempat yang membahagiakan untuk hidup, karena makin sedikit masalah antar orangtua, semakin sedikit masalah yang dihadapi anak, dan sebaliknya hubungan keluarga yang buruk akan berpengaruh kepada seluruh anggota keluarga. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai keharmonisan keluarga, pak Cah menanyakan kepada saya dan peserta, “Disini, semua sudah menikah atau belum?”. Lalu MC menjawab, “Disini pesertanya banyak yang belum menikah, Pak…”. Pak Cah melanjutkan bicaranya, “Dikira saya, disini pesertanya sudah banyak yang menikah, baik Insyaa Allah saya akan mencoba berbagi tentang ilmu pra nikahnya juga…”. Dalam suatu keluarga terdiri dari suami istri, ibu bapak dengan anak, namun ada juga keluarga yang belum mandiri sehingga masih ada turut campur keluarga istri atau keluarga suami. Seorang istri mengeluh bahwa dirinya merasa tidak cocok dengan suaminya justru setelah menikah selama satu tahun. Selalu saja ada hal yang menjadi bahan pertengkaran suami-istri, sampai istri tersebut timbul keinginan untuk bercerai. Konflik demi konflik selalu terjadi dalam rumah tangganya yang membuatnya stres. Dalam setiap hubungan antara individu akan selalu muncul yang disebut dengan konflik, tak terkecuali dalam hubungan keluarga. Konflik seringkali dipandang sebagai perselisihan yang bersifat permusuhan dan membuat hubungan tidak berfungsi dengan baik. Perlu diingat, konflik adalah konsekuensi atas interaksi. Tapi bukan berarti tidak ada interaksi itu tidak ada konflik, pak Cah menceritakan salah satu klienya, ada sepasang suami istri selama 12 tahun tinggal dalam satu atap rumah, sayangnya mereka jarang (banget) berkomunikasi (saat itu saya menghela nafas, lha kok ya?mereka kagak ngobrol hal-hal konyol atau guyonan apa gitu). Si Istri memilih tidur sendiri dan melayani suami apa adanya, lalu anak pertamanya lah yang menjadi komunikator (sekaligus membawa Ibu Bapaknya ke ruang konseling), karena setiap ada makanan yang sudah siap saji misalnya, si Ibu menyuruh anaknya yang memanggil Bapaknya untuk segera makan, lha kan bisa ngomong langsung(?). Kalau kata pak Cah, konflik ini masuk ke dalam level I; terjadi ketidaknyamanan (unvisible conflict) yang konfliknya memang sih tidak kelihatan, tapi toh bisa dirasakan, kya kya ada sesuatu diantara mereka, maka berdiam diri, jika dibiarkan begitu saja, akan menjadi peluang konflik yang besar, mendadak meledak. Lalu konflik level II yang kita temui biasanya sudah pakai omongan a.k.a ribut-ribut berisik tidak jelas, tidak karuan, gaduh. Konflik level III-nya adalah konflik ini mainya sudah ke fisik, dari kata-kataan yang kurang enak didengar, menyakitkan perasaan pasangan dan mereka bisa sampai pukul-pukulan atau banting ini itu. Bagaimana mewujudkan keluarga yang SAMAWA (Sakinah, Mawaddah dan Warrahmah), pak Cah menyebutkan 3 point, yaitu: (1) Kuatkan pondasi keluarga, (2) Sukses melalui semua tahap dalam pernikahan dan (3) Menyelaraskan perbedaan.

Ya, kita belajar untuk bisa menguatkan pondasi keluarga. Pernikahan tidak cuma berdampak pada halalnya hubungan kedua insan manusia, namun juga berdampak pada hubungan dan tatanan bermasyarakat. Pun memiliki dampak kepada kepemimpinan dan syiar Islam di muka bumi yang sejatinya diletakkan di atas sebuah miniatur negara yakni keluarga. Saya tidak bisa menjabarkan tahapnya satu demi satu, tapi yang perlu kita cermati adalah prioitas awal yakni kesiapan, bukan mencari calon seperti yang dikhawatirkan banyak orang. Kesiapan ini meliputi kesiapan fisik / kesehatan, kesiapan material, kesiapan konsepsi atau ilmu pernikahan menurut syariat Islam dan kesiapan dari segi moral & spiritual, salah satunya visi pernikahan dalam rangka beribadah kepada Allah ta’ala. Tidak cukup dengan kata cinta, ketika ditanya, “Kenapa kamu ingin menikah dengan dia?” Lalu kita menjawab, “Karena saya cinta dengan dia…”. Sambung lagi ketika ada niat untuk bercerai, “Kenapa kamu mau bercerai dengan dia?”. Kita menjawab dengan mudah, “ya, karena saya sudah tidak cinta lagi dengan dia…”. Menikah bukan soal umur, menikahlah dengan visioner, menikah bukan untuk senang-senang. Menikahlah dengan tujuan mulia, menikah yang berlandaskan keimanan dan ketaqwaan. Karena cinta tidak bisa menyatukan kita, tapi hanya Allah yang bisa menyatukan cinta. Ada seorang suami yang mengeluhkan keadaan istrinya kepada pak Cah, karena istrinya terindikasi sedang ada hubungan yang intens dan dekat dengan seorang lelaki di kantornya, lalu pak Cah menyuruh si Bapak tersebut datang kembali bersama istrinya. Lalu pak Cah memediasi keduanya, ditanyailah si istri tersebut, “Ibu, tau kalau Ibu sudah memiliki suami dan anak?” Lalu si Ibu tersebut menjawab, “iya, saya memiliki suami dan anak, tapi saya sedang jatuh cinta dengan dia (red-teman kantor), Pak. Kan cinta itu anugerah…”. Saat saya mendengarkan cerita pak Cah tersebut, saya merasakan miris, kok tega ya. Pun pak Cah bilang, Allah memberikan sakinah kepada orang yang menikah, bukan kepada mereka yang melakukan hal-hal yang tidak diridhoiNya. Beliau (Pak Cah) menjelaskan bahwa kesiapan adalah kunci pernikahan dari sisi pria. Oleh karena itu, beberapa pun lama seorang lelaki menjalin hubungan dengan perempuan yang bukan mahramnya (baca: pacaran), tanpa diiringi kesiapan, menikah akan tetap menjadi sebuah kegamangan. Di waktu yang sama Pak Cah dengan jenaka mengingatkan wanita agar tidak “memastikan sesuatu yang belum pasti” yakni memastikan jodoh dengan jalan pacaran. Semua tidak pernah pasti tanpa adanya kesiapan. Dalam teorinya Dawn J.Lipthrott, LCSW menyatakan ada lima tahap perkembangan dalam kehidupan pernikahan: (1) Romantic love. Kehidupan pernikahan diwarnai dengan keindahan, cinta yang menggebu-gebu anatar suami dan istri, disebut sebagai bulan madu. Berkisar anatar 3-5 tahun, (2) Dissapointment or distress: ”kok ternyata begitu?”. Mulai melihat realitas-realitas hidup. Melihat wujud asli pasangannya (berkaitan dengan karakter, sifat , sikap dan kondisi lainnya). Mulai saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa, berusaha mempertahankan ego masing-masing, (3) Knowledge and awareness: “oh, kamu seperti itu ya?”. Adanya perenungan dan kesadaran pada masing-masing pasangan untuk memiliki kualitas hidup berumah tangga yang lebih baik, lebih saling mengenal dan mengerti karakter dan kepribadian satu sama lain, (4) Transformation: ”aku semakin membutuhkanmu”. Kematangan hubungan, berusaha melakukan perbuatan yang mampu membahagiakan hati pasangannya. Menjadikan pasnagannya sebagai sahabatnya sehingga sudah mampu menyikapi perbedaan dan konflik yang terjadi satu sama lain dan (5) Real love: ”aku mencintaimu seperti apapun dirimu”. Pasangan sudah menyatu dalam cinta sejati yang dipenuhi dengan keceriaan, keintiman, kebahagiaan dan kebersamaan.

“Nikmati tahap romantic love seoptimal mungkin, jangan cepat berlalu. Lalui tahap kedua secepat mungkin, jangan berlama-lama karena bagian kedua merupakan bagian yang tidak menyenangkan. Ditahap ketiga berusaha bersungguh-sungguh memahami dan menerima pasangan yang membuat tahap ketiga dan keempat berjalan dengan mulus, sehingga mencapai tahap kelima yaitu real love sampai akhir usia.” -pak Cah.

bersambung…